Perubahan Iklim

Perubahan iklim

images

Karbon dioksida dulu tidak mempunyai reputasi yang begitu buruk. Gas ini dibutuhkan oleh tanaman untuk melakukan proses fotosintesis dan, seperti gas rumah kaca lainnya, berguna untuk mempertahankan suhu bumi di malam hari dengan menahan sebagian pancaran balik cahaya matahari. Temperatur bumi ini juga dipengaruhi oleh faktor alam lain seperti perubahan matahari dan letusan gunung berapi yang besar.

Namun, konsentrasi karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya meningkat drastis setelah adanya industrialisasi dan sejak manusia mulai menggunakan bahan bakar fosil, yang melepaskan banyak karbon ke atmosfer. Semakin banyak pancaran balik cahaya matahari yang terperangkap dan temperatur bumi naik dengan rata-rata sekitar 0,4 derajat Celcius sejak tahun 1970-an. Sembilan dari 10 tahun terpanas dalam sejarah terjadi pada dekade terakhir, bahkan tahun 2010 tercatat sebagai tahun terpanas, sejajar dengan tahun 2005.

Banyak orang pada awalnya menentang adanya perubahan iklim dan mempertanyakan peran manusia di dalamnya. Setelah mengkaji ratusan hasil studi dari seluruh dunia, para ahli yang tergabung dalam Intergovernmental Panel on Climate Change pada tahun 2007 sepakat bahwa kegiatan manusia merupakan penyebab utama pemanasan global. Faktor alam semata tidak cukup kuat untuk menjelaskan pemanasan secepat ini. Kenaikan suhu bumi tidak boleh melampaui 2 derajat pada tahun 2025 untuk membatasi akibat buruknya bagi hidup manusia.

Iklim yang semakin panas akan mempengaruhi ketersediaan air serta meningkatkan intensitas kondisi cuaca ekstrim seperti badai dan kekeringan. Banyak petani di Indonesia sudah merasakan hal ini dalam kesulitan mereka untuk memperkirakan waktu tanam dengan musim yang semakin tidak menentu.

Lapisan es di kutub juga mencair dan akan menyebabkan meningkatnya permukaan air laut. Indonesia memiliki 55.000 kilometer pantai, kedua terpanjang di dunia setelah Kanada, dan kenaikan permukaan laut ini akan menimbulkan banyak kesulitan di daerah padat penduduk serta hilangnya pulau-pulau kecil.

Bukan hanya manusia, perubahan iklim juga mempengaruhi tanaman dan binatang yang memiliki batas adaptasi ekologis yang rendah. Sebagian mungkin bisa pindah dan beradaptasi, tetapi yang lain akan punah. Beruang kutub, misalnya, tidak akan bisa pindah ke mana-mana jika lapisan es tempat mereka hidup sudah mencair.

Dunia internasional sudah memulai langkah-langkah untuk menghadapi perubahan iklim tersebut. Di bawah Protokol Kyoto, negara-negara maju – kecuali Amerika Serikat – sepakat untuk mengurangi emisi gas rumah kacanya. Pengurangan ini dapat dilakukan dengan membiayai proyek-proyek di negara berkembang untuk menurunkan emisi mereka, misalnya dengan menggunakan teknologi yang lebih bersih. Ini sesuai dengan prinsip “common but differentiated responsibility”, atau tanggung jawab bersama yang dibedakan.

Protokol Kyoto akan berakhir pada tahun 2012 dan keberhasilannya dipertanyakan. Oleh karena itu, dunia internasional sedang mempersiapkan suatu kesepakatan pengganti yang bisa memberikan solusi yang lebih baik, misalnya dengan mengikutsertakan skema untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+). Kesepakatan ini juga diharapkan dapat memberi manfaat untuk semakin banyak negara.

Indonesia menjadi negara berkembang pertama yang memberikan target konkret pemotongan emisi gas rumah kaca. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan di pertemuan G20 pada tahun 2009 bahwa Indonesia akan menurunkan emisi sebesar 26 persen dari tingkat business-as-usual pada tahun 2020 dengan sumber dayanya sendiri dan 41 persen dengan bantuan internasional. Salah satu cara yang ditempuh adalah melalui mekanisme REDD+, yang masih dikembangkan supaya siap diterapkan setelah 2012.