Konsensus Global

Konsensus Global tentang REDD+

Menurut Stern Review (2006), dengan mengurangi deforestasi saja, kita bisa segera mengurangi emisi karbon dengan cara yang hemat biaya. Mengapa demikian? Deforestasi berkontribusi sebesar 5,8 miliar ton gas karbon dioksida (CO2) atau setara dengan 18 persen dari emisi gas rumah kaca dunia ke atmosfer setiap tahunnya. Hal inilah yang mendorong dimasukkannya skema REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) dalam skema penanggulangan perubahan iklim.

Berikut beberapa kesepakatan dan hasil pertemuan di tingkat internasional:

  1. Kesepakatan Cancun dari UNFCCC COP 16 di Cancun, Meksiko, Desember 2010
    Kesepakatan Cancun mengadopsi REDD+ dengan menggunakan pendekatan bertahap termasuk kegiatan sub-nasional. Dokumen ini juga mendefinisikan pengaman REDD dengan komprehensif, namun agenda pendanaan ditunda untuk dibicarakan pada tahun 2011.
    http://unfccc.int/resource/docs/2010/cop16/eng/07a01.pdf#page=2
  2. Kesepakatan Copenhagen dari UNFCCC COP 15 di Copenhagen, Denmark, Desember 2009
    Kesepakatan ini tidak menyebutkan REDD+ secara eksplisit, namun mendeklarasikan “pembentukan suatu mekanisme secepatnya … untuk memungkinkan mobilisasi sumber daya financial dari negara maju untuk mendukung usaha mengurangi emisi dari dari deforestasi dan degradasi hutan serta untuk meningkatkan penyimpanan karbon”.
    http://unfccc.int/resource/docs/2009/cop15/eng/11a01.pdf
  3. Pertemuan Kelompok Kerja Ad-hoc Aksi Kerjasama Jangka Panjang (AWG-LCA) di Barcelona, Spanyol, November 2009
    Perundingan ini membicarakan 4 hal terkait REDD+ yaitu cakupan wilayah, komunitas lokal, pengukuran dan pendanaan.
    http://www.unredd.net/index.php?option=com_docman&task=doc_view&gid=1152&tmpl=component&format=raw&Itemid=53
  4. Pertemuan Kelompok Kerja Ad-hoc Aksi Kerjasama Jangka Panjang (AWG-LCA) Sesi 7 di Bangkok, Thailand, September/Oktober 2009
    Pada pertemuan ini , beberapa negara termasuk Brazil, India, Meksiko, Swis dan Norwegia meminta pengaman REDD+ dimasukkan lagi dalam teks yang akan diangkat dalam perundingan di Bercelona, Spanyol, pada bulan November 2009.
    http://unfccc.int/files/meetings/ad_hoc_working_groups/lca/application/pdf/mitigation1biiinp18081009.pdf
  5. Tiga pertemuan di Bonn, Jerman, pertengahan 2009
    Ketiga pertemuan tersebut mempersiapkan teks negosiasi yang akan dipakai di UNFCCC COP 15 di Copenhagen, Denmark dan memastikan bahwa naskah tersebut mencakup semua isu dan hal penting terkait REDD+, seperti cakupan wilayah, hak-hak masyarakat setempat, serta pengukuran dan pelaporan.
    http://unfccc.int/resource/docs/2008/sbsta/eng/l23.pdf (teks untuk negosiasi)
    http://unfccc.int/resource/docs/2009/awglca6/eng/inf01.pdf (teks untuk negosiasi setelah revisi)
  6. Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA) Sesi 29 dan UNFCCC COP 14 di Poznan, Polandia, Desember 2008
    Istilah REDD+ mulai diperkenalkan dalam SBSTA sesi 29, yang menyebutkan dalam laporannya “pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan di negara-negara berkembang, dan peran konservasi, pengelolaan berkelanjutan dari hutan dan peningkatan stok karbon di negara-negara berkembang”.
    http://unfccc.int/resource/docs/2008/sbsta/eng/13.pdfhttp://maindb.unfccc.int/library/view_pdf.pl?url=http://unfccc.int/resource/docs/2008/cop14/eng/07.pdf
  7. Kesepakatan dari UNFCCC COP 13 di Bali, Indonesia, Desember 2007
    Konvensi perubahan iklim ini mengeluarkan dua keputusan penting terkait REDD, yaitu Bali Action Plan, yang memberikan arahan negosiasi internasional selanjutnya untuk menuju kesepakatan pasca Protokol Kyoto, serta dimasukkannya pengurangan emisi dari deforestasi di negara berkembang sebagai salah satu pendekatan untuk mendorong adanya tindakan dalam salah satu keputusannya.
    http://unfccc.int/documentation/decisions/items/3597.php?such=j&volltext=/CP.13#beg
    http://unfccc.int/resource/docs/2007/cop13/eng/06a01.pdf#page=8
    http://unfccc.int/files/meetings/cop_13/application/pdf/close_stat_cop13_president.pdf
  8. Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA) SBSTA Sesi 24 di Bonn, Jerman, Mei 2006
    REDD mulai dipertimbangkan dengan adanya pernyataan “perlunya membahas pengurangan emisi dari deforestasi di negara-negara berkembang sebagai bagian upaya mitigasi perubahan iklim”.
    http://unfccc.int/resource/docs/2006/sbsta/eng/05.pdf
    http://unfccc.int/resource/docs/2006/sbsta/eng/l08.pdf
  9. UNFCCC COP 11 di Montreal, Kanada, November 2005
    Coalition for Rainforest Nations meminta dimasukkannya agenda tentang “pengurangan emisi dari deforestasi di negara berkembang: pendekatan untuk mendorong tindakan”.
    http://unfccc.int/resource/docs/2005/cop11/eng/05a01.pdf
    http://unfccc.int/resource/docs/2005/cop11/eng/misc01.pdf
  10. Kesepakatan Marrakesh dari UNFCCC COP 7 di Marrakesh, Maroko, Desember 2001
    Perubahan tata guna lahan dan sektor kehutanan (LULUCF) mulai dibicarakan lebih komprehensif dan mendorong kesepakatan bahwa kegiatan terkait dengan sektor-sektor ini dapat dilaksanakan di negara-negara Annex 1.
    http://unfccc.int/cop7/documents/accords_draft.pdf
  11. Protokol Kyoto di Kyoto, Jepang, Desember 1997
    Benih REDD mulai ditanam dalam Protokol Kyoto, terutama di pasal 2 dan 3
    http://unfccc.int/kyoto_protocol/items/2830.php

Sebagian disarikan dari:
Carbon Planet White Paper: “The History of REDD Policy”
http://unfccc.int/files/methods_science/redd/application/pdf/the_history_of_redd_carbon_planet.pdf