Arsip Fokus REDD

Fokus REDD

Insentif REDD+, Skema Plan Vivo Bisa di Replikasi Dalam Skala Luas di Indonesia

P3SEKPI (Bogor, 13/10/2016)_Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI), Dr. Henry Bastaman menyatakan bahwa training ini merupakan suatu upaya agar Skema Plan Vivo bisa direplikasi dalam skala yang lebih luas pada wilayah-wilayah yang memiliki potensi REDD+ di Indonesia.  Hal tersebut disampaikan pada saat membuka “Pelatihan Penyusunan Program Pengurangan Emisi Berbasis Masyarakat melalui Mekanisme Plan Vivo”, pada tanggal 11 – 12 Oktober 2016, di Hotel Royal Pajajaran, Bogor.

Pembayaran Jasa Lingkungan (Payments for Ecosystem Services/PES) merupakan salah satu mekanisme pemberian insentif REDD+ dalam mendukung pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang berkelanjutan. Dari beberapa skema REDD+, Plan Vivo adalah salah satu skema yang telah berhasil diterapkan di beberapa tempat di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, Puslitbang Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI melalui Proyek Kerjasama Penelitian ACIAR FST/2012/040 yang berjudul: Enhancing Smallholder Benefits from Reduced Emissions from Deforestation and Forest Degradation, menyelenggarakan kegiatan pelatihan ini.

Leader ACIAR Project, Profesor Luca Taconi dari The Australian National University yang  dalam sambutannya menyatakan: “REDD+ mungkin sudah cukup dikenal di berbagai kalangan, namun bagaimana masyarakat berpartisipasi  dan menerima manfaat dari kegiatan REDD+, merupakan tantangan yang harus terjawab dalam proyek penelitian ini.

Selaras dengan hal tersebut, Kepala P3SEKPI, Dr. Bambang Supriyanto menyatakan bahwa saat ini upaya mitigasi terhadap perubahan iklim yang dilakukan KLHK harus berbasis masyarakat/desa. Apa pun nama yang digunakan dan branding yang berbeda, namun upaya tersebut memerlukan collaborating management plan dalam pelaksanaannya untuk menuju pembangunan ekonomi hijau Indonesia.

Narasumber utama dan fasilitator dalam acara pelatihan ini yang memberikan arahan dalam penyusunan Project Idea Note (PIN) dan Project Design Documen (PDD) untuk program Plan Vivo yaitu Dr. Ahmad Kusworo dan Joseph Hutabarat dari Flora Fauna Indonesia (FFI). Selain itu, hadir pula narasumber dari Direktorat Mitigasi Perubahan Iklim Ditjen PPI, Haryo Priambudi, M.Sc, yang pada akhir presentasinya menyimpulkan bahwa keberhasilan REDD+ di Indonesia salah satunya ditentukan oleh dukungan dan keterlibatan masyarakat lokal.

Diharapkan dengan adanya pelatihan ini dapat memberikan pengetahuan dasar kepada seluruh partisipan terkait dengan implementasi REDD+ pada skala kecil, sebagai respon atas komitmen Indonesia untuk mengatasi tantangan perubahan iklim dan memanfaatkan insentif yang tersedia sehingga bisa meningkatkan kinerja pengelolaan hutan di tingkat masyarakat.

Sekitar 38 peserta hadir dalam acara pelatihan tersebut. Selain beberapa peneliti dari lingkup BLI (Puslitbang Hutan, Hasil Hutan dan P3SEKPI) peserta training juga juga berasal dari beberapa unit eselon I KLHK lain seperti Ditjen PPI, KSDAE, PHPL dan PSKL. Sementara peserta dari luar KLHK adalah Sekolah Bisnis IPP, RCCC-UI, Pengelola Hutan Adat Rumbio Provinsi Riau, Pengelola Hutan Desa Katimpun dan Hutan Adat Rakumpit Provinsi Kalimantan Tengah, dan Inisiatif Pembangunan Rendah Emisi (IPRE) sebagai pendamping pengelola Hutan Adat Yapase Provinsi Papua.***IA