Arsip Fokus REDD

Fokus REDD

Agroforestri untuk Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim

FORDA (Bogor, 03/10/2016)_Agroforestri dapat dikembangkan untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dengan berbagai pertimbangan yaitu : a) Pencampuran jenis pohon penghasil kayu, buah dan lain-lain akan lebih baik daripada tanaman sejenis; b) Pencampuran jenis yang didasarkan pada sifat toleransi, akan memanfaatkan seluruh cahaya untuk fotosintesa; c) Pencampuran perbedaan umur; d) Penggabungan nilai ekonomi, sosial dan budaya sehingga perubahan vegetasi dapat berjalan seiring dengan perubahan sosial dan budaya secara berangsur yang dapat disesuaikan dengan perubahan iklim dan ; e) Dapat digunakan sebagai model untuk memfasilitasi perubahan kelompok vegetasi menjadi kelompok yang baru (adaptasi).

Hal tersebut di sampaikan oleh Ir. Tigor Butarbutar, M.Sc, peneliti Puslitbang Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI) dalam Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan, Volume 9 No. 1, April 2012 : 1 - 10.

Tigor mengatakan bahwa proses adaptasi dengan peningkatan daya tahan (resistancy), peningkatan daya lentur (resilience) dan mendorong/membantu migrasi (migration) jenis-jenis dapat dilakukan melalui pengembangan model agroforestri. Selain itu, agroforestri dapat diusulkan sebagai kompensasi bagi masyarakat yang terkena dampak langsung atau tidak langsung dari kegiatan-kegiatan implementasi pengurangan emisi gas rumah kaca.

“Pendekatan agroforestri dapat diajukan sebagai salah satu alternatif mitigasi dan adaptasi untuk mendapatkan insentif dalam mengatasi perubahan iklim,” kata Tigor.

Lebih lanjut Tigor mengatakan bahwa terkait dengan aspek adaptasi, maka agroforestri terkait dengan pemindahan germaplasma adalah merupakan koleksi jenis pohon dari hutan alam di sekitarnya atau dari daerah lain, di mana berbagai jenis pohon dapat dicampur sesuai dengan komposisi di alam, dilapis kedua dapat ditanam pohon penghasil buah dan tanaman penghasil pangan atau rempahrempah di lapisan ketiga.

Selain itu, dari aspek adaptasi agroforestri mempunyai titik berat untuk meningkatkan nilai Ne = ukuran populasi ideal/efektif dengan sifat genetik yang sama dengan yang ada di lapangan. Model ini menitikberatkan pada penanaman jenis-jenis pohon atau tanaman tertentu dengan tujuan jumlah ini sudah memenuhi syarat kesamaan genetik dengan ukuran populasi yang ada di alam. Contoh seperti ini dapat dilihat pada bentang lahan dengan sekelompok pohon yang mempunyai jenis sama, kelompok ini bisa menyebar secara terpisah dengan lainnya dengan jumlah anggota populasi yang relative sama.

Sementara itu terkait dengan aspek mitigasi, Tigor mengatakan bahwa peran agroforestri dalam mitigasi dapat dilihat dari ketiga strategi yaitu fungsi yang pertama sebagai penyerapan karbon, melalui penanaman campuran (jenis kayu pertukangan, pakan ternak, buah-buahan dan lain-lain). Kedua terhadap fungsi perlindungan stok terlihat pada pengurangan bahaya kebakaran dan serangan hama penyakit dengan pencampuran berbagai jenis tanaman dan yang ketiga terhadap fungsi pemanfaatan energi yang dapat diperbaharui, dengan tanaman jenis penghasil kayu bakar.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Naver, (2010) menyebutkan bahwa pengurangan emisi karbon dapat dilakukan dengan penerapan agroforestri pada areal/ lanskap yang terdeforestasi dengan jenis pohon yang dicampur dengan jenis penaung, pohon dengan daun pakan ternak dan buah-buahan. Selain itu Naver dalam penelitiannya mengemukakan bahwa pengurangan emisi gas rumah kaca dapat dilakukan melalui 3 (tiga) skenario sebagai berikut : 1) Menghentikan perubahan penggunaan lahan hutan; 2) Menerapkan praktek agroforestri di ¼ areal yang terdeforestasi dan 3) Deforestasi tetap terjadi dengan tanpa pengolahan lahan di lahan terdeforestasi.

Dari hasil skenario Naver mengungkapkan bahwa menerapkan praktek agroforestri akan meningkatkan stok karbon dibandingkan dengan kedua skenario lainnya (penghentian perubahan lahan hutan dan perubahan penutupan lahan hutan tanpa pengolahan hutan).

“Oleh karena itu, pendekatan agroforestri ini merupakan solusi yang lebih realistis dibandingkan dengan pandangan populer yang akan menghemat hutan dan mengintensifkan pertanian. Penggunaan lahan secara bersama untuk hutan dan pertanian  akan mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan produksi pangan lebih efektif dibandingkan dengan menghemat hutan dan intensifikasi pertanian,” jelas Tigor.

“Pilihan agroforestri sebagai alat adaptasi melalui model diversifikasi produk akan meningkatkan sistem kelestarian petani kecil. Hal yang paling dikhawatirkan dari perubahan iklim adalah pandangan petani kecil terhadap meningkatnya variasi curah hujan dan temperature,” ungkap Tigor.

Lebih lanjut Tigor mengatakan bahwa sistem agroforestri yang berbasis pohon akan mempunyai keuntungan baik pada tahun basah dan tahun kering, karena : 1) perakaran yang dalam akan mampu menyerap air dan zat hara yang lebih besar hal ini akan membantu pada saat musim kering; 2) meningkatkan porositas tanah, mengurangi aliran permukaan dan meningkatkan penutupan tanah yang akan meningkatkan infiltrasi tanah dan retensi pada profil tanah akan mengurangi tekanan kelembaban selama tahun-tahun basah; 3) sistem yang berbasis pohon mempunyai kecepatan evaporasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman pertanian atau areal penggembalaan dan dapat mempertahankan kondisi aerasi tanah dengan pemompaan air berlebih dari profil tanah lebih cepat dibanding dengan sistem lainnya.

Selain itu, dengan sistem agroforestri yang berbasis pohon akan menghasilkan produksi yang lebih tinggi dan baik dalam jumlah maupun nilai dibandingkan dengan tanaman pertanian, sehingga bisa menjadi alternatif pendapatan dikaitkan dengan variasi perubahan iklim.***