Arsip Fokus REDD

Fokus REDD

Cegah Kebakaran di Lahan Gambut dengan Pelibatan Masyarakat dan Pola Agroforestri

FORDA (Banjarbaru, 27/09/2016)_Bencana kebakaran hutan, terutama lahan gambut merupakan bencana rutin tiap tahun di Indonesia. Bencana tersebut menimbulkan banyak kerugian, baik material maupun immaterial. Masalah ini harus segera diselesaikan. Cara yang paling efisein dan efektif adalah pelibatan masyarakat dan pola agroforestri.

Hal ini diungkapkan oleh Dr. Drs. Acep Akbar, M.BA., MP., Peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hutan dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru dan timnya dalam artikelnya yang berjudul ‘Strategi Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan Rawa Gambut’ dalam Majalah Galam Vol. 2. No. 1 Juni 2016.

“Salah satu alternatif pencegahan kebakaran yang bisa dilakukan dengan memberdayakan masyarakat untuk membangun kebun atau hutan tanaman di lahan gambut yang mempunyai resiko kecil kebakaran. Caranya yaitu agroforestri,”kata Acep yang dikutip dalam artikelnya.

Agar pola agroforestri tersebut berhasil, Acep menyarankan untuk memilih jenis tanaman yang secara ekologis cocok untuk lahan gambut. Salah satunya adalah jelutung rawa (Dyera polyphylla) atau pantung. Jenis tanaman yang sudah dikenal dan dikembangkan serta secara ekonomi telah menguntungkan masyarakat/petani.

“Penerapan teknik agroforestri pada pengembangan jenis jelutung rawa dimaksudkan untuk diversifikasi komoditi, usaha dan pendapatan sehingga akan dapat meningkatkan minat petani untuk membudidayakan jelutung rawa yang berjangka panjang dan mencegah terjadinya kebakaran,”kata Acep seperti kutipan dalam artikelnya.

Selain jenis tanaman jelutung rawa, Acep juga menyarankan jenis tanaman lain yang cukup potensial untuk dikembangkan, antara lain: belangeran (Shorea belangeran), gemor (Nothaphoebe coriacea), punak (Tetrameristra glabra), meranti rawa (Shorea teysmaniana), Nyatoh (Palaquium cochleria) dan ramin (Gonystilus bacanus). 

Pola agroforestri ini akan efisien dan efektif mengendalikan kebakaran di lahan gambut, apabila dalam pembangunan kebun atau hutan tanaman tersebut diiringi dengan kegiatan: 1). Persiapan lahan dengan penggunaan api minimal dan terkendali; 2). Pengaturan jarak tanam; 3). Pembersihan cabang dan ranting bawah; 4). Minimasi bahan bakar gulma; 5). Penanaman rumput pendek pakan ternak, 6). Pembuatan sekat bakar; 7). Pembuatan sumur air; 8). Pengadaan alat pemadam sederhana dan pembuatan tower pengamat asap untuk unit pengelolaan berskala luas.

“Dan yang paling penting dalam pengendalian kebakaran hutan di lahan gambut adalah upaya pemberdayaan masyarakat dalam pola pembangunan kebun atau hutan tanaman dengan sistem agroforestri ini,”kata Acep.

Selain itu, pemberdayaan masyarakat juga dapat dilakukan melalui pembentukan regu pengendali kebakaran desa/kampong, fasilitasi peralatan pemadam sederhana dan melakukan pelatihan pengendalian kebakaran.

“Pemberdayaan masyarakat tersebut merupakan pola alternatif pengelolaan kebakaran yang menjanjikan karena kejadian kebakaran selama ini banyak dipicu oleh kebiasaan pembakaran lahan masyarakat berskala kecil tetapi banyak dilakukan setiap tahun di desa-desa dan ladang sekitar hutan,”kata Acep.

Acep menyarankan bahwa pencegahan kebakaran hutan/lahan gambut dengan pelibatan atau  berbasis masyarakat perlu segera diterapkan di setiap desa dan kampung sekitar hutan/lahan gambut. Menurutnya, strategi manajemen kebakaran hutan berbasis masyarakat telah menjadi solusi alternatif khususnya di negara-negara Afrika dan Asia dengan harapan agar bencana kebakaran dalam skala luas dapat dicegah.

Acep menyatakan bahwa keberhasilan pengendalian kebakaran dengan pemberdayaan/pelibatan masyarakat dapat dilihat dari sejauh mana keseriusan dalam membina dan mendidik masyarakat pengguna api lahan, penegakan hukum dan teknik-teknik pencegahan yang diterapkan. Selain itu, Kerjasama yang sinergis antara para pihak merupakan dukungan terbesar dalam mencegah terjadinya kebakaran.

“Kolaborasi pemerintah dengan masyarakat dapat diwujudkan dengan berbagai penemuan dan penggalian jenis-jenis inovasi pencegahan kebakaran. Dengan syarat bahwa inovasi tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehingga terciptanya proses peningkatan kesadaran, kesiagaan dan difusi inovasi dapat berjalan secara cepat,”kata Acep. ***JND/THS.