Arsip Fokus REDD

Fokus REDD

Rehabilitasi Hutan, Bukan hanya Menanam Pohon

BLI, KLHK (Bogor, 22/09/2016)_Kegiatan rehabilitasi hutan, seyogyanya bukan hanya semata-mata menanam pohon saja. Merawat permudaan alami, melindungi dan mengamankan kawasan hutan dari segala gangguan dan ancaman termasuk perbaikan dan pemulihan kualitas kesuburan tanah itu juga termasuk kegiatan rehabilitasi hutan.

Hal ini dikemukakan oleh Dr. Ishak Yassir, S.Hut., M.Si., Peneliti Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA) Samboja pada artikelnya yang berjudul “Merehabilitasi Hutan: Haruskah Selalu dengan Menanam Pohon?” dalam Majalah Swara Samboja Vol V/No. 1/2016.

Menurutnya, kegiatan rehabilitasi hutan pada hakekatnya adalah semua kegiatan yang dilaksanakan atau dilakukan secara sengaja untuk memacu regenerasi pohon baik secara alami maupun buatan di areal-areal hutan yang mengalami kerusakan guna memulihkan, mempertahankan bahkan meningkatkan fungsi hutan tersebut sebagai penyangga kehidupan.

“Mencermati definisi rehabilitasi hutan tersebut, maka kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan secara teknis di lapangan tidak semata-mata hanya kegiatan penanaman pohon,”tegas Ishak.

“Disamping menanam pohon, kegiatan rehabilitasi hutan dapat saja hanya berupa kegiatan menjaga dan memacu pertumbuhan dari permudaan alami, perbaikan dan pemulihan kualitas tanah, atau kegiatan perlindungan dan pengaman kawasan hutan,”tambahnya.

Ishak menyadari bahwa program rehabilitasi hutan sudah menjadi program prioritas pemerintah sejak tahun 2000. Saat ini, hasil program tersebut sudah terlihat. Di beberapa tempat, banyak kegiatan rehabilitasi hutan cukup berhasil, namun dilain pihak juga belum memberikan dampak apa-apa, bahkan cenderung mengalami kegagalan.

“Belajar dari keberhasilan program rehabilitasi hutan diberbagai tempat di Indonesia, ternyata sangat ditentukan oleh professional dan keseriusan lembaga pelaksana kegiatan. Keseriusan tersebut bukan hanya sebatas memiliki komitmen yang sangat tinggi dengan mengalokasikan dana dan sumber daya manusia yang memadahi dan professional, tetapi juga kemampuan dalam mendesain dan menjalankan strategi dan program rehabilitasi hutan secara tepat dan konsisten,”kata Ishak.

Menurutnya, mendesain dan menjalankan strategi dan program yang tepat dapat dilakukan dengan: 1). Aktif berkomunikasi dan berkoordinasi dengan para pihak; 2). Desain program yang banyak melibatkan dan memberikan keuntungan bagi masyarakat setempat; dan 3). Memiliki kemampuan mengantisipasi segala gangguan yang dapat mengancam keberhasilan seperti kebakaran, perambahan, illegal logging dan gangguan hewan ternak.

“Terkait dengan desain dan strategi rehabilitasi hutan, saat ini strategi rehabilitasi hutan lebih banyak atau selalu melalui pendekatan menanam pohon. Pendekatan ini tentu tidak salah dan memang harus dilakukan terutama pada lahan-lahan kritis seperti lahan alang-alang, dan semak belukar termasuk juga hutan yang mengalami kerusakan dengan tutupan tajuk pohon di bawah 60%,”katanya.

Ishak menambahkan bahwa untuk kawasan hutan yang masih memiliki tutupan tajuk pohon di atas 60% dengan permudaan alami yang berlimpah, kegiatan rehabilitasi hutan melalui kegiatan menanam pohon sebaiknya dipertimbangkan dan dilakukan secara hati-hati. Hal ini dikarenakan jangan sampai dalam kegiatan menanam pohon justru akan menambah rusak kawasan tersebut.

“Jangan sampai disaat membuka jalur tanam, anakan dari jenis-jenis lokal klimaks yang sudah tumbuh dengan baik dan adaptif ditebas, kemudian diganti dengan jenis yang relatif sama namun tidak ada jaminan hidup dan tumbuh dengan baik,”katanya.

Oleh karena itu, Ishak menegaskan bahwa dalam kegiatan rehabilitasi hutan, identifikasi tingkat kerusakan di kawasan hutan sangat penting dilakukan, termasuk identifikasi apakah lokasi tersebut masih memiliki permudaan alami yang berlimpah dari jenis-jenis asli setempat.

“Hal ini penting dilakukan untuk menentukan strategi yang tepat, apakah kegiatan rehabilitasi hutan memang harus dengan kegiatan menanam pohon? atau justru sebaliknya, kegiatan menanam pohon tidak perlu dilakukan, tetapi cukup hanya dengan melakukan kegiatan pemeliharaan anakan yang telah hadir secara alami, disertai kegiatan perlindungan dan pengamanan hutan,”tegasnya.

Selain itu, Ishak menyatakan bahwa kegiatan rehabilitasi yang dipilih seyogyanya disesuaikan dengan prinsip dan tujuan dari kegiatan tersebut, seperti: 1). Meningkatkan jumlah jenis dan kerapatan pohon ; 2). Merawat dan memacu pertumbuhan tanaman; 3). Merawat dan memacu jumlah dan pertumbuhan permudaan alami; dan 4). Mencegah atau meniadakan faktor yang dapat menghambat terjadinya regenerasi alami, pertumbuhan tanaman, bahkan menyebabkan kematian tanaman.

“Sedangkan bagaimana pilihan cepat untuk menentukan kegiatan prioritas yang perlu dilakukan didalam kegiatan rehabilitasi hutan sangat ditentukan dari tujuan perbaikan atau pemulihan (fungsi kawasan), tingkat kerusakan, dan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat setempat,”tegasnya.

Untuk itu, Ishak menyarankan bahwa sudah saatnya pemerintah menetapkan program dan penganggaran dari kegiatan rehabilitasi hutan yang berimbang antara program menanam pohon, dengan program penguatan kelembagaan dan program perlindungan dan pengamanan hutan.

“Dapat dipastikan menanam sejuta bibit pohon bahkan semilyarpun akan tetap sia-sia tanpa didukung kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan, termasuk didukung oleh kelembagaan yang kuat dan professional,”tegas Ishak.