Berita Kementerian Kehutanan

Menteri Siti Nurbaya Membuka International Workshop on Biomass Burning

Biro Humas (Jakarta, 29/08.2016)_Pencemaran udara akibat asap kebakaran hutan dan lahan menjadi persoalan dan perhatian dalam beberapa dasawarsa terakhir, untuk itu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyelanggarakan International Workshop on Biomass Burning di Kantor BMKG - Jakarta, Senin, 29 Agustus 2016.

Pada kesempatan itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan hadir sebagai pembicara kunci sekaligus membuka workshop yang dihadiri 80 orang pakar dan akademisi dari 12 negara tersebut.

Saat membuka acara, Siti Nurbaya menyampaikan bahwa, “Hutan Indonesia harus dilindungi karena mengandung kekayaan alam yang sangat luar biasa serta merupakan paru-paru dunia. Namun, kondisi hutan Indonesia selama beberapa tahun terakhir mengalami penurunan akibat deforestasi, illegal-logging dan kebakaran. Oleh karena itu, guna merehabilitasi hutan tersebut diperlukan upaya serius dari pemerintah dan masyarakat”, ungkap Menteri Siti.

“Upaya yang dilakukan saat ini adalah: Memperbaiki kebijakan tata kelola hutan; Mengeluarkan kebijakan yang mendukung upaya pengendalian perubahan iklim; Menyeimbangkan antara konservasi dan pertumbuhan ekonomi; serta Pengelolaan hutan yang ditujukan untuk kemakmuran masyarakat”, lanjut Siti.

Pada kesempatan tersebut, Menteri LHK, juga menyampaikan terimakasih kepada BMKG yang telah sangat membantu dalam upaya dini pencegahan kebakaran hutan dan lahan, membantu dalam teknologi modifikasi cuaca saat terjadi kebakaran, dan membantu dalam memberikan informasi terkait perubahan iklim.

Kepala BMKG, Andi Eka Sakya menyatakan, “Kabut asap pada beberapa tahun terakhir telah menggangu pendidikan, transportasi dan ekonomi masyarakat. Untuk itu BMKG selalu menyajikan informasi dinamika atmosfer dan variabilitas iklim seperti kejadian El Nino serta prakiraan dan peringatan dini cuaca dan iklim yang dinilai sangat penting dalam upaya pencegahan dan operasionalisasi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Dalam jangka panjang, sistem monitoring yang dilakukan BMKG – terutama kenaikan konsentrasi karbon dapat menjadi rujukan gas rumah kaca dan partikulat di atmosfer yang diakibatkan oleh aktifitas manusia,”.