Hasil Seminar, Workshop dan Pelatihan

Workshop Ahli Perubahan Iklim Regional Bali-Nusa Tenggara

29 Juli 2016
Hotel Golden Tulip Mataram
Workshop Ahli Perubahan Iklim Regional Bali-Nusa Tenggara

Peran Masyarakat Ilmiah dan Sinergi antar pihak dalam ketahanan perubahan iklim.

“Masyarakat ilmiah diharapkan dapat memberikan dasar ilmiah untuk keperluan negosiasi perubahan iklim internasional maupun dalam penentuan kebijakan ditingkat nasional dan daerah; mempersiapkan generasi masa depan yang sadar akan terjadinya perubahan iklim; serta menjadi agen perubahan di mana pun dia berada” (Dr. Ir. Nur Masripatin. M.For.Sc)

Peran masyarakat ilmiah sangatlah penting dalam aksi-aksi terkait isu perubahan iklim di berbagai tingkatan. Hal ini disadari betul oleh pemegang kebijakan pengendalian perubahan iklim di Indonesia sebagaimana disampaikan oleh Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Dr. Ir. Nur Masripatin., M.for. Sc dalam penutup pidato kuncinya pada Workshop Ahli Perubahan Iklim regional Bali-Nusa Tenggara yang dilaksanakan di Hotel Golden Tulip Mataram tanggal 29 Juli 2016.

Workshop Ahli Perubahan Iklim Regional Bali Nusa-Tenggara mengambil tema “Pembangunan Rendah Emisi di Regional Bali Nusa Tenggara: Dinamika dan Tantangan Menuju Ketahanan Lingkungan, Energi dan Pangan”. Workshop ini merupakan rangkaian ke-dua dari kegiatan peningkatan kapasitas ahli perubuhan iklim dan kehutanan di Indonesia di tahun 2016. Workshop ini terselenggara melalui kerjasama secara non formal antara Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Universitas Mataram, Jejaring Ahli Perubahan Iklim Indonesia (APIK), dan Millennium Challenge Account Indonesia. Peserta yang hadir pada workshop ini terdiri dari akademisi dari perguruan tinggi di wilayah Bali-Nusa Tenggara seperti Universitas Mataram, Universitas Nusa Cendana, Universitas Udayana, Universitas Warmadewa, dan Universitas Pendidikan Ganesha, Perwakilan Satuan Kerja Perangkat Daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat, Anggota Konsorsium Petuah, dan Kalangan usaha.

Kawasan Bali-Nusa Tenggara memilki karakter khas yang dapat menyebabkan kerentanan terhadap perubahan iklim. Terdiri dari rangkaian pulau-pulau kecil, iklim di kawasan ini seringkali berada pada kondisi yang ekstrim. Kondisi kemarau panjang yang sering terjadi di kawasan ini dapat menyebabkan krisis sumberdaya air dan kerawanan pangan. Di lain pihak, kondisi sosial ekonomi masyarakat memberi tantangan terhadap upaya menjaga kawasan hutan. Salah satu tantangan dalam menjaga kelestarian sumberdaya hutan adalah kebutuhan masyarakat akan sumber energi. Masyarakat kawasan Bali-Nusa tenggara secara garis besar masih membutuhkan kayu sebagai bahan bakar untuk kepentingan domestic.

Dalam paparannya, perwakilan Bappeda Provinsi Nusa Tenggara Barat menyatakan komitmen pemerintah daerah dalam menyikapi perubahan iklim. Rencana Aksi Daearah penurunana emisi gas rumah kaca diakomodir melalui pengesahan Peraturan Gubernur Nusa Tenggara Barat Nomor 51 tahun 2012. Dalam sasaran prioritas pembangunannya, pemerintah daerah juga berupaya sebaik mungkin untuk menjadikan pembangunan lingkungan yang berkelanjutan sebagai tujuan dari pembangunan di daerah.

Guna mendukung pembangunan berkelanjutan terutama berkaitan dengan isu-isu perubahan iklim, masyarakat ilmiah di perguruan tinggi mencoba untuk memberikan berbagai alternatif aksi melalui penelitian-penelitian, pengajaran, dan pengabdian masyarakat sebagaimana diamanatkan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dalam paparan-paparannya, perwakilan masyarakat ilmiah menginformasikan berbagai program yang dilaksanakan. Masyarakat ilmiah yang memberikan paparan pada workshop kali ini yaitu: Prof. Ir. Iskandar Z. Siregar, Ph.D (Konsorsium “PETUAH”), Dr. Markum (Universitas Mataram); Yayan Hadiyan, S.Hut., M.Sc (Sekretariat Nasional APIK); Dr. Ir. Michael Riwu Kaho, M.Si (Universitas Nusa Cendana); Dr. Ir. I Gusti Bagus Udayana M.Si (Universitas Warmadewa); Dr. Ir. Halil MBA (Univeristas Mataram); dan Priyanto Wibowo (Blue Carbon Consortium).

Dari paparan-paparan yang disampaikan, beberapa penelitian menunjukkan upaya mengurangi ketergantungan masyarakat akan energi fosil dan bahan bakar kayu. Upaya ini merupakan langkah mitigasi perubahan iklim disamping langkah untuk menjaga kelestarian hutan di wilayah Bali-Nusa Tenggara. Selain langkah mitigasi, upaya adaptasi juga dilakukan terutama berkaitan dengan penganggulan krisis air. Berangkat dari kejadian iklim ekstrim yang terjadi di beberapa wilayah di mana kekeringan ekstrim dan banjir menjadi penyebab gagal panen, modifikasi pola tanam dan penyimpanan air dicoba untuk dilakukan. Gabungan upaya adaptasi dan mitigasi juga dilakukan dengan menggali potensi yang ada di masing-masing wilayah.

Para akademisi juga mencoba untuk mengampanyekan isu-isu perubahan iklim dan mengarusutamakannya dalam kurikulum-kurikulum pendidikan yang sudah ada di masing-masing perguruan tinggi. Guna mewadahi akademisi-akademisi yang intens melaksanakan riset, diddirikan berbagai pusat-pusat unggulan di berbagai perguruan tinggi. Pusat-pusat unggulan di masing-masing universitas juga berkolaborasi dengan pusat-pusat unggulan di universitas lain. Menarik juga untuk dicatat bahwa peran dunia usaha perlu ditingkatkan baik dalam upaya mitigasi mau pun adaptasi.

Koordinasi dan sinergi dari semua pihak sangat diperlukan untuk menghadapi perubahan iklim yang nyata terjadi. Disamping itu, peran para akademisi melalui program dan pusat-pusat unggulan perlu dipertahankan baik dengan adanya program lanjutan maupun tidak.