![]() Suasana sidang COP 15 Copenhagen (Sumber: http://en.cop15.dk) |
Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim (COP 15) telah menghasilkan Copenhagen Accord (CA). Banyak pihak merasa kecewa dengan hasil KTT di Copenhagen 7 – 19 Desember lalu, karena CA merupakan pernyataan politik yang tidak mengikat secara hukum (non-legally binding agreement). Begitu besar harapan adanya perubahan kebijakan negara-negara kaya untuk mengurangi emisi yang dikeluarkan industri mereka. Akan tetapi banyak analis melihat bahwa dinamika politik negosiasi rezim perjanjian iklim global berkembang.
Meningkatnya perhatian para pemimpin dunia dalam mengupayakan penurunan emisi penyebab perubahan iklim ini terlihat dari kehadiran pemimpin dari AS, Cina dan Brazil. Lars Løkke Rasmussen, PM Denmark dalam wawancaranya dengan harian Jyllands-Posten, menyatakan:
“Para pemimpin top dunia menganggap Copenhagen secara serius karena batas akhir (menuju Protokol Kyoto) dan disampaikan sebelumnya. Seandainya Obama tidak hadir, saya sangsi jika AS akan mulai berkomitmen dukungan finansial jangka panjang – dimana ini bersejarah. Seandainya Lula tidak hadir, Brazil sulit untuk meningkatkan ambisinya (mengurangi emisi). Jika Wen tidak hadir, Cina mungkin tidak akan membuka pandangan internasional akan apa yang sedang terjadi – dimana usulan mereka sangat penting secara politik global.”
Selain negara-negara kuat secara ekonomi seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa yang biasanya paling berpengaruh dalam perundingan internasional. Kini dunia juga melihat peranan negara-negara yang sedang naik secara ekonomi menuju industrialisasi seperti Brazil, Afrika Selatan, India dan Cina atau dikenal BASIC Group. BBC News menulis, “Kelompok BASIC muncul menjadi kekuatan baru dalam negosiasi perubahan iklim ini, terutama dalam menghadapi tekanan terus menerus dari negara-negara kaya.” Dalam tulisan itu ditulis pula bahwa PM India Jairam Ramesh puas karena “seluruh kepentingan India terjaga” dan “pendekatan India dipandang sebagai konstruktif”. Penyelesaian draft CA ini sendiri dilakukan secara tertutup yang melibatkan AS dan BASIC Group sebelum keesokan harinya diterima oleh seluruh anggota UNFCCC (Parties).
Sayangnya CA ini tidak mengikat secara hukum. Ini disayangkan oleh Sekretaris UNFCCC, Yvo de Boer, “Kita harus jujur dengan apa yang kita dapat. Dunia pergi dari Copenhagen dengan sebuah kesepakatan. Tapi ambisi untuk mengurangi emisi yang jelas harus diambil jika kita ingin menjaga dunia sampai 2 derajat.” Karena janji-janji di atas kertas yang disebutkan oleh negara-negara baik maju maupun berkembang tidak cukup untuk menahan kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat atau kurang tidak cukup.
Demikian pula komentar dari dunia usaha yang diwakili oleh Corporate Leaders’ Group dan 950 perusahaan dari lebih 60 negara yang menandatangani The Copenhagen Comuniqué. Dunia usaha membutuhkan kesepakatan yang mengikat secara hukum supaya dunia usaha yakin dengan investasi yang akan ditanamkan dalam bentuk teknologi dan infrastruktur berkarbon rendah.
Richard Gledhill dari Pricewaterhouse Cooper, menambahkan, “Investasi modal besar dalam infrastruktur berkarbon rendah membutuhkan kebijakan yang berjangka panjang dan tegas. Kita belum sampai di sana, maka kita belum akan melihat skala atau kecepatan investasi yang dibutuhkan untuk mempercepat ekonomi berkarbon rendah.”
Senada dengan itu David Nussbaum dari WWF UK menambahkan, “Jika jarak antara retorika dan kenyataan tidak ditutupi, kesepakatan ini akan memakan jutaan korban manusia dan miliaran dollar.” Bahkan Andy Atkins dari Friends of the Earth bernada keras, “KTT ini kegagalan yang sangat, kesepakatan iklim itu harus dibuang ke tempat sampah. .. Waktu hampir habis, kita memerlukan langkah yang tegas, tidak lagi hanya kepentingan sempit dan sesaat.”
Poin CA ini di antaranya, seperti ditulis detik.com yaitu, negara-negara Annex I (negara industri maju) menyetujui adanya sistem pemantauan dan pelaporan atas target-target pengurangan emisi dan penyediaan pendanaan. Sementara negara-negara Non-Annex I (negara berkembang) menetapkan bahwa pengurangan emisi juga perlu diukur, dilaporkan dan diverifikasi oleh negara masing-masing dan dikomunikasikan ke UNFCCC setiap dua tahun.
Selain itu CA memuat komitmen negara-negara untuk menyediakan dana US$ 30 miliar untuk tahun 2010-2012 untuk pendanaan yang seimbang bagi adaptasi dan mitigasi yang disalurkan melalui lembaga internasional.
CA ini sendiri sekarang masih dalam bentuk draft yang harus diadopsi – dengan menandatanganinya dan menyerahkan komitmen pengurangan emisinya yang menjadi lampiran sampai 30 Januari – oleh 193 anggota sebelum diberlakukan. Jika ditandatangani oleh para anggota (Parties) maka akan proses negosiasi akan berlanjut untuk menghasilkan Pakta internasional yang mengikat secara hukum – yang seharusnya terjadi di Copenhagen itu sendiri.
Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim selanjutnya akan dilakukan di Mexico City pada akhir tahun 2010, yang didahului oleh sesi negosiasi di Bonn pada 31 Mei – 11 Juni 2010.
Sumber: